KEANEKARAGAMAN
yg harus dicari
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
5. Dokumentasi foto dari masing-masing objek
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik lainnya.
7. manfaat dan peranan ekologis
8. ciri khas dari spesies tersebut
9. jenis dan deskripsi umum
10. interaksi yang teramati
HEWAN
1. kijang
Dokumentasi foto dari masing-masing objek
Nama Umum (Lokal): Kijang Mas, Muncak (Indonesia)
Nama Internasional: Indian Muntjac
Nama Ilmiah: Muntiacus muntjak
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class (Kelas): Mammalia
Ordo (Bangsa): Artiodactyla
Family (Suku): Ruminantia
Genus (Marga): Muntiacus
Spesies (Jenis): Muntiacus muntjak
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Kijang Mas memiliki panjang tubuh 90-110 cm dengan tinggi bahu 40-65 cm dan
berat badan 15-35 kg. Bulunya lembut dan pendek berwarna cokelat kemerahan
hingga kekuningan pada bagian punggung, sementara bagian perut lebih pucat.
Jantan memiliki tanduk sederhana yang tidak bercabang sepanjang sekitar 15 cm,
tumbuh dari batang tulang panjang di kepala. Ciri khas yang paling menonjol adalah
garis hitam berbentuk V atau Y di dahi, taring atas yang menonjol pada jantan, dan
kelenjar preorbital besar di depan mata untuk menandai teritorial.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
Habitat Alami:
Hutan tropika (hutan hujan tropis)
Semak belukar
Hutan tanaman
Area dengan vegetasi lebat untuk perlindungan
Daerah dekat sumber air
Distribusi Geografis (Penyebaran):
Berdasarkan peta distribusi pada papan informasi, kijang mas tersebar di:
India, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Indocina (Thailand, Vietnam, Laos,
Kamboja), Malaysia, Indonesia (Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan).
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya
Perilaku: Beberapa kijang terlihat sedang beristirahat di bawah struktur peneduh
yang terbuat dari kayu karena cuaca panas sekitar 34 derajat celcius. Kijang berada
dalam posisi duduk atau berbaring, yang menunjukkan kondisi tenang dan merasa
aman, mereka tampak berkelompok. Salah satu kijang tampang berdiri dan mencari
posisi duduk, menandakan bahwa struktur peneduh kekurangan ruang yang
mumpuni.
Kondisi lingkungan: Lingkungan adalah kandang terbuka, area konservasi dengan
banyak vegetasi alami (ragunan). Struktur peneduh dari kayu berfungsi melindungi
kijang dari panas matahari. Terdapat akar-akar gantung dan pepohonan lebat,
menciptakan kondisi mirip hutan yang cocok untuk spesies seperti kijang. Area tanah
tampak lembap dan teduh, mendukung kenyamanan hewan saat beristirahat.
Hal menarik: Terdapat beberapa kijang dalam satu kandang luas dan tampak
berkelompok saat meneduh dari panas matahari.
manfaat dan peranan ekologis
Kijang Mas berperan penting sebagai herbivora pengontrol populasi vegetasi bawah
hutan dan mangsa bagi predator seperti macan tutul, kucing hutan, dan python.
Sebagai penyebar biji, kijang membantu regenerasi hutan dengan menyebarkan biji
tumbuhan ke lokasi berbeda. Keberadaannya menjadi indikator kesehatan ekosistem
hutan. Manfaat bagi manusia meliputi nilai konservasi keanekaragaman hayati, objek
ekowisata dan pengamatan satwa liar, media edukasi lingkungan, dan subjek
penelitian ekologi dan konservasi.
ciri khas dari spesies tersebut
Ciri khas utama Kijang Mas adalah marking wajah berbentuk V atau Y di dahi yang
sangat distingtif. Kemampuan mengeluarkan suara gonggongan seperti anjing
menjadikannya dikenal sebagai "barking deer". Tanduk jantan sederhana tidak
bercabang dengan taring atas yang menonjol untuk pertarungan. Ukuran tubuh yang
kecil menjadikannya salah satu rusa terkecil di dunia, ideal untuk hidup di vegetasi
lebat. Kelenjar preorbital besar menghasilkan sekret untuk komunikasi kimia. Secara
genetik, spesies ini memiliki jumlah kromosom yang sangat rendah dan unik dengan
jantan 2n=7 dan betina 2n=6. Warna bulu cokelat kemerahan berkilau memberikan
nama "mas", dan kemampuan beradaptasi di berbagai elevasi dari dataran rendah
hingga 3000 mdpl menunjukkan fleksibilitas ekologis yang tinggi.
jenis dan deskripsi umum
Genus Muntiacus mencakup sekitar 12 spesies kijang dengan Muntiacus muntjak
(Kijang Mas) sebagai yang paling tersebar luas dan terbesar. Spesies lain meliputi M.
reevesi (Kijang Reeves) di Tiongkok, M. vaginalis (Kijang Utara) di Asia Tenggara, M.
atherodes (Kijang Kalimantan) yang endemik Kalimantan, M. feae (Kijang Fea) di
Myanmar-Thailand, M. crinifrons (Kijang Berjambul Hitam) di Tiongkok tengah yang
terancam punah, M. truongsonensis (Kijang Annamite) di Vietnam-Laos, dan M.
putaoensis (Kijang Daun) di Myanmar utara. Karakteristik umum genus ini adalah
ukuran tubuh kecil, tanduk sederhana tanpa percabangan, taring atas berkembang
pada jantan, kelenjar preorbital besar, perilaku soliter, dan kemampuan vokalisasi
gonggongan. Semua spesies menghuni hutan dengan vegetasi lebat sebagai
browser selektif yang aktif saat senja dan malam hari.
interaksi yang teramati
Kijang-kijang terlihat berkumpul bersama di area yang sama, tetapi tidak
menunjukkan interaksi fisik langsung. Ini merupakan perilaku umum pada herbivora
yang sering berada dalam kelompok untuk rasa aman.
2. Kura-kura sawah (pengganti macan tutul jawa)
Dokumentasi foto dari masing-masing objek
Nama Umum (Lokal): Kura-kura Sawah
Nama Internasional: Headed Softshell Turtle
Nama Ilmiah: Cuora amboinensis
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class (Kelas): Testudines (Chelonia)
Order (Bangsa): Testudines
Family (Suku): Geoemydidae
Genus (Marga): Cuora
Species (Jenis): Cuora amboinensis
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Kura-kura Sawah memiliki warna keseluruhan yang bervariasi dari zaitun sampai
hijau tua, dengan tempurung tengah yang sangat kompleks dan berpola karapas
(cangkang punggung). Titik leher anterior menampilkan marking berbentuk "V" di
leher yang merupakan ciri khas spesies ini. Tempurung cenderung membulat tinggi,
memberikan profil yang khas. Cangkang atau karapas berwarna cokelat gelap
hingga kehitaman dengan tekstur yang relatif halus. Plastron (cangkang perut)
berwarna lebih terang, biasanya kuning kecokelatan dengan pola gelap. Kepala
berukuran sedang dengan mata yang menonjol dan leher yang dapat ditarik
sepenuhnya ke dalam cangkang. Kaki pendek dengan jari-jari berselaput untuk
berenang, dan ekor yang relatif pendek.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
Kura-kura Sawah menghuni sungai, rawa, dan sawah di berbagai wilayah. Habitat
utamanya adalah perairan air tawar yang dangkal hingga sedang dengan arus
lambat atau tergenang, termasuk sawah-sawah yang tergenang air, rawa-rawa,
kanal irigasi, kolam, dan danau kecil. Distribusi geografisnya berdasarkan peta pada
papan informasi meliputi Sulawesi, Maluku, dan Ambon di Indonesia. Spesies ini
juga tersebar di Asia Tenggara lainnya. Objek pengamatan ini didokumentasikan di
fasilitas konservasi/kebun binatang di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, berdasarkan
logo provinsi pada papan informasi.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya
Perilaku: Beberapa kura-kura terlihat berjemur di bawah sinar matahari di area
kering. Ini adalah perilaku normal untuk mengatur suhu tubuh (thermoregulation).
Ada kura-kura yang berada di dekat atau sebagian dalam air, menunjukkan aktivitas
perpindahan dari air ke darat atau sebaliknya. Tidak tampak adanya perilaku agresif;
kura-kura cenderung tenang dan pasif. Kuraa-kura dewasa nampak berendam di
dalam air tanpa berpindah posisi.
Kondisi lingkungan: Lingkungan tampak seperti kandang semi-alami dengan
elemen batu, tanah, kolam kecil, dan dinding enclosure. Terdapat area air yang
dangkal sebagai tempat kura-kura berendam, sesuai kebutuhan mereka. Permukaan
tanah kering dan adanya sinar matahari langsung memberikan kesempatan bagi
kura-kura untuk berjemur. Terdapat bebatuan dan undakan kecil yang dapat
membantu kura-kura bergerak antara area air dan daratan.
Hal menarik: Beberapa kura-kura berukuran kecil tampak sedang berjemur,
sementara kura-kura dewasa lebih banyak berendam tanpa menunjukkan
tanda-tanda akan berjemur.
manfaat dan peranan ekologis
Kura-kura sawah berperan penting dalam ekosistem perairan sebagai predator
tingkat menengah yang membantu mengontrol populasi ikan kecil, invertebrata, dan
hama sawah seperti keong serta serangga perusak padi. Sebagai omnivora,
kura-kura ini juga menjaga keseimbangan vegetasi air dan kualitas perairan. Bagi
manusia, spesies ini memiliki nilai ekonomi, budaya, dan konservasi, serta menjadi
objek penelitian dan edukasi yang bermanfaat untuk memahami ekologi perairan dan
pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
ciri khas dari spesies tersebut
Kura-kura Sawah memiliki ciri khas utama berupa marking berbentuk “V” di bagian
leher, tempurung membulat tinggi, serta warna karapas gelap yang membantu
kamuflase. Kemampuannya menarik kepala sepenuhnya ke dalam cangkang
menjadi mekanisme pertahanan yang efektif. Adaptasi semi-akuatik dengan kaki
berselaput membuatnya lincah berenang maupun bergerak di darat, serta perilaku
berjemurnya penting untuk termoregulasi. Plastron berwarna terang bercorak gelap
dan ukuran tubuh sedang (15–20 cm) menambah keunikan spesies ini. Toleransinya
terhadap habitat terganggu seperti sawah dan kanal irigasi menunjukkan
kemampuan bertahan hidup yang tinggi dibanding reptil lain.
jenis dan deskripsi umum
Genus Cuora terdiri dari sekitar 12 spesies kura-kura kotak Asia, termasuk Cuora
amboinensis yang paling adaptif dan tersebar luas. Spesies lain seperti C.
flavomarginata, C. galbinifrons, C. trifasciata, dan C. aurocapitata memiliki ciri khas
warna dan pola yang mencolok, sementara beberapa di antaranya sangat langka
atau terancam punah. Secara umum, genus ini memiliki engsel plastron yang
memungkinkan penutupan cangkang total, ukuran kecil–sedang, habitat
semi-akuatik, pola makan omnivora cenderung karnivora, serta perilaku berjemur
untuk termoregulasi. Family Geoemydidae mencakup sekitar 70 spesies dengan
adaptasi beragam, banyak di antaranya terancam akibat perdagangan dan degradasi
habitat. Meski C. amboinensis lebih umum dan toleran terhadap berbagai
lingkungan, spesies ini tetap membutuhkan upaya konservasi berkelanjutan.
Interaksi yang teramati
beberapa kura-kura terlihat berdekatan di area berjemur atau pinggir air — pola
umum karena mereka mencari spot yang nyaman, bukan karena perilaku sosial aktif.
Tidak tampak persaingan atau gerakan saling mendesak. Interaksi lebih berupa
berbagi ruang secara pasif daripada interaksi langsung. Namun terdapat beberapa
kura-kura kecil yang sedang bermain di dalam air.
3. landak jawa
Dokumentasi foto dari masing-masing objek
Nama umum (lokal): Landak Jawa
Nama Internasional : Sunda porcupine
Nama ilmiah: Hystrix javanica
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Order : Rodentia
Family : Hystricidae
Genus : Hystrix
Species : Hystrix javanica
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Landak Jawa memiliki tubuh yang dipenuhi duri panjang, keras, dan tajam berwarna
cokelat kehitaman yang berfungsi sebagai pertahanan diri. Duri-durinya berbentuk
silinder dengan panjang sekitar 15–25 cm. Tubuhnya relatif bulat dengan kaki yang
pendek dan kuat untuk menggali tanah. Kepala kecil dengan moncong runcing, mata
kecil, dan telinga pendek. Warna tubuh cenderung gelap sehingga membantu dalam
kamuflase alami.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
Habitat alami Landak Jawa meliputi kawasan hutan primer, hutan sekunder, semak
belukar, perbukitan berbatu, hingga perkebunan. Hewan ini cukup adaptif terhadap
lingkungan yang berubah. Berdasarkan foto, objek pengamatan berada di area
penangkaran atau kebun binatang, dibuktikan oleh keberadaan papan informasi
resmi di dinding kandang.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya
Perilaku: Beberapa Landak tampak berkelompok dan bertumpuk dengan kondisi
tertidur di area kandang yang teduh. Duri mereka pada saat tertidur tampak rileks.
Kondisi lingkungan: Lingkungan berupa kandang berbatu yang menyerupai gua
atau habitat alami mereka di alam (area berbatu, celah, terowongan). Permukaan
tanah dan batu tampak kering, cocok untuk tempat beristirahat siang hari. Cahaya
yang masuk terlihat cukup tetapi tidak langsung pada landak, memberikan kesan
area semi-gelap yang nyaman untuk hewan nokturnal.
Hal menarik: Landak jawa menunjukkan perilaku tidur saling berdekatan, yang
dapat menandakan rasa aman dan hubungan sosial antarindividu. Tampak duri-duri
putih khas landak jawa yang dalam posisi rileks dan tidak menegak, menunjukkan
hewan berada dalam kondisi tidak terancam. Lingkungan konservasi terlihat terawat
dengan permukaan yang bersih dan tidak terlalu banyak stimulus yang dapat
mengganggu hewan siang hari.
manfaat dan peranan ekologis
Landak Jawa memiliki peranan penting dalam ekosistem. Sebagai pemakan umbi,
akar, dan bagian tumbuhan lainnya, hewan ini membantu mengendalikan vegetasi
liar. Aktivitas menggali tanah yang sering dilakukan landak dapat meningkatkan
aerasi dan kesuburan tanah. Selain itu, landak berperan sebagai penyebar biji
melalui kotoran, serta menjadi bagian dari rantai makanan yang mendukung
keseimbangan ekosistem. Dalam konteks manusia, landak dapat menjadi sumber
edukasi dan penelitian biologis..
ciri khas dari spesies tersebut
Ciri khas yang paling mencolok dari Landak Jawa adalah durinya yang panjang,
kaku, dan mampu ditegakkan sebagai mekanisme pertahanan. Ketika merasa
terancam, landak ini dapat menghasilkan suara gesekan dari durinya. Selain itu,
kemampuan menggali tanah yang kuat dan sifatnya yang pemalu serta aktif pada
malam hari menjadi karakteristik penting spesies ini. Keberadaannya yang endemik
juga menjadi ciri unik yang membedakannya dari landak lain.
jenis dan deskripsi umum
Landak Jawa merupakan jenis mamalia pengerat dari ordo Rodentia yang tubuhnya
ditutupi duri. Ukurannya sedang, dengan kebiasaan makan tumbuhan seperti umbi,
akar, buah, dan sayuran. Spesies ini termasuk omnivora sederhana dan memiliki
pola hidup nokturnal. Secara umum, landak ini termasuk hewan yang soliter dan
lebih banyak beraktivitas pada malam hari.
interaksi yang teramati
Interaksi yang jelas adalah kontak kedekatan (proximity) karena landak tidur
berdampingan. Ini menunjukkan adanya interaksi sosial pasif, yaitu istirahat bersama
tanpa aktivitas agresif atau kompetitif.
4. banteng
Nama umum: Banteng
Nama ilmiah: Bos javanicus
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Order: Artiodactyla
Family: Bovidae
Genus: Bos
Species: Bos javanicus
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Secara morfologis, banteng memiliki tubuh besar dan kekar dengan otot-otot yang
berkembang baik, sehingga mendukungnya bergerak di medan hutan dan padang
rumput. Warna tubuh banteng jantan cenderung hitam atau cokelat gelap,
sedangkan betina biasanya berwarna lebih terang dengan rona kecokelatan. Tanduk
jantan besar dan melengkung ke luar sebelum membengkok ke atas, sedangkan
tanduk betina lebih kecil dan ramping. Bagian kaki bawah banteng berwarna putih
sehingga tampak seperti mengenakan “kaus kaki”, dan pola warna ini menjadi ciri
khas yang mudah dikenali. Bentuk kepala yang besar dan leher yang kuat
menunjukkan adaptasi terhadap aktivitas merumput serta pergerakan melalui semak
belukar.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
Banteng secara alami hidup di habitat hutan tropis, padang rumput, savana, dan
daerah berhutan dengan sumber air yang memadai, karena mereka membutuhkan
air untuk minum, mendinginkan tubuh, dan mencari lumpur untuk melindungi kulit.
Dalam pengamatan ini, banteng ditemukan di area konservasi kebun binatang yang
meniru habitat aslinya, dengan padang rumput, pepohonan, area lumpur, dan
kandang luas yang memungkinkan mereka berperilaku secara alami. Kondisi
lingkungan dibuat sedemikian rupa agar menyerupai habitat asli, seperti keberadaan
rumput hijau, area teduh, serta pagar pengaman yang tetap memberi ruang gerak
luas bagi banteng.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya
Perilaku: Banteng terlihat berjalan atau berdiri sambil mengamati lingkungan.
Kepala menghadap ke arah kamera menunjukkan ia sedang waspada namun tidak
menunjukkan tanda stres. Tidak tampak perilaku agresif seperti menundukkan
kepala, mengentakkan kaki, atau memamerkan dominasi. Sembari berjalan, banteng
tersebut mencari rumput untuk dimakan.
Kondisi lingkungan: Lingkungan terbuka dengan padang rumput hijau yang tampak
cukup luas sebagai area jelajah banteng. Ada parit atau batas batu yang
memisahkan area pengunjung dengan area satwa—ini sesuai standar keamanan
dan konservasi. Vegetasi cukup rimbun di bagian belakang, memberikan pilihan area
berteduh meskipun banteng berada di area terbuka saat foto diambil. Cahaya
matahari tampak cukup kuat (siang hari), tetapi area tetap terlihat teduh dan cukup
sejuk berkat pepohonan besar.
Hal menarik: Warna coklat kemerahan yang mencolok menunjukkan ini
kemungkinan banteng betina atau individu muda, karena jantan dewasa biasanya
lebih gelap. Struktur kandang didesain menyerupai sabana kecil, lengkap dengan
elemen vegetasi dan penghalang alami.
manfaat dan peranan ekologis
Dalam ekosistem, banteng berperan sebagai herbivora besar yang membantu
menjaga keseimbangan vegetasi melalui proses merumput yang mengontrol
pertumbuhan tanaman tertentu, sehingga mencegah dominasi spesies tumbuhan
tertentu dan mendukung keanekaragaman hayati. Banteng juga membantu
penyebaran biji dari berbagai tanaman melalui kotorannya, yang memperkaya
regenerasi hutan dan padang rumput. Selain itu, keberadaan banteng sebagai satwa
besar dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem, karena mereka memerlukan
habitat yang luas, sumber air memadai, dan vegetasi berkualitas. Hilangnya banteng
dapat menjadi tanda kerusakan ekosistem secara keseluruhan.
ciri khas dari spesies tersebut
Ciri khas banteng terletak pada perbedaan warna tubuh antara jantan dan betina,
tanduk besar melengkung, serta kaki bagian bawah berwarna putih yang tampak
kontras dengan warna tubuhnya. Selain itu, banteng jantan memiliki punuk kecil di
bagian bahu yang tidak terlalu menonjol seperti kerbau, serta bentuk tubuh lebih
ramping dibandingkan sapi domestik. Perilaku hidup berkelompok juga merupakan
ciri khas yang membedakan banteng dari kerabat dekatnya, karena mereka
umumnya hidup dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh seekor betina.
jenis dan deskripsi umum
Banteng adalah salah satu dari tiga subspesies Bos javanicus yang tersebar di Asia
Tenggara, dengan Bos javanicus javanicus sebagai subspesies yang khas dari
Indonesia. Secara umum, banteng adalah hewan yang lebih liar, lebih kuat, dan lebih
responsif terhadap ancaman lingkungan dibandingkan sapi domestik. Mereka
memiliki perilaku sosial kuat, suka bergerak dalam kelompok, dan sering berpindah
mengikuti ketersediaan pakan. Di alam liar, banteng juga dikenal sangat waspada,
cepat melarikan diri, dan tidak agresif kecuali merasa terancam.
interaksi yang teramati
Interaksi yang tampak hanya berupa monitoring lingkungan, yaitu banteng
memperhatikan arah sekitar—perilaku umum herbivora besar dalam memastikan
keamanan. Setelah itu, banteng memakan rumput yang ada di depannya.
5. Burung hantu ikan (pengganti sanca patola)
Nama umum: Burung Hantu Ikan
Nama Internasional : Buffy fish owl
Nama ilmiah: Ketupa
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Strigiformes
Family: Strigidae
Genus: Ketupa
Species: Ketupa ketupu
Ciri-ciri morfologi yang diamati
Burung Hantu Ikan memiliki ukuran tubuh besar, bulu berwarna cokelat burik atau
abu-abu dengan bercak gelap, serta mata besar berwarna kuning menyala yang
memberikan kemampuan melihat dalam cahaya minim. Paruhnya kuat dan
melengkung khas burung pemangsa, sementara sayapnya lebar sehingga
memungkinkan terbang dengan suara hampir tidak terdengar. Leher burung ini
tampak berjambul, memberikan kesan lebih gagah dibandingkan burung hantu kecil.
Kakinya kuat dan dilengkapi cakar tajam untuk menangkap mangsa seperti ikan,
tikus, atau amfibi.
Habitat atau lokasi ditemukannya objek
Habitat alami burung ini adalah hutan tropis lembap, terutama di dekat sungai,
danau, rawa, atau perairan dangkal karena mangsanya banyak ditemukan di area
tersebut. Dalam pengamatan, burung ini ditempatkan dalam kandang besar dengan
jeruji besi yang ditutupi vegetasi rindang, ranting pohon, dan area bertengger yang
tinggi sehingga meniru habitat aslinya. Lingkungan kandang terlihat cukup teduh dan
sesuai dengan kebutuhan burung nokturnal yang tidak menyukai cahaya terlalu
terang.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya
Perilaku: Kedua burung hantu ikan tampak bertengger berdampingan pada batang
kayu yang sama. Posisi yang sangat dekat menunjukkan toleransi sosial yang baik,
kemungkinan merupakan pasangan atau individu yang sudah terbiasa hidup
bersama dalam satu kandang. Keduanya terlihat dalam kondisi tenang, duduk diam
tanpa menunjukkan tanda agresi seperti membuka sayap, menundukkan kepala,
atau mengeluarkan suara ancaman. Karena burung hantu ikan adalah nokturnal,
perilaku tenang di siang hari adalah wajar.
Kondisi lingkungan: Kandang dikelilingi oleh jaring kawat yang rapat, sesuai
standar kandang burung pemangsa untuk menjaga keamanan sekaligus
memungkinkan aliran udara. Terdapat pepohonan dan tanaman besar di dalam
kandang, memberikan suasana alami dan tempat berteduh. Batang kayu digunakan
sebagai perch (tempat hinggap), memberikan struktur yang mendukung perilaku
alami burung hantu untuk bertengger. Pencahayaan siang cukup terang, tetapi
adanya daun-daun besar menciptakan bayangan yang membuat area menjadi lebih
sejuk dan teduh, sesuai kebutuhan burung nokturnal.
Hal menarik: Burung hantu ikan memiliki ciri khas bulu coklat keemasan dan pola
gelap pada sayap, yang terlihat jelas di gambar. Jenis ini terkenal sebagai pemburu
ikan, sehingga biasanya kandang mereka juga menyediakan area air, meskipun tidak
tampak dalam foto ini. Perch yang diposisikan di tempat tinggi memberikan vantage
point yang penting bagi burung predator untuk memantau lingkungannya.
manfaat dan peranan ekologis
Burung Hantu Ikan memiliki peran ekologis penting sebagai predator tingkat
menengah yang membantu mengontrol populasi tikus, serangga besar, ikan kecil,
dan amfibi. Pengendalian populasi ini sangat penting dalam menjaga keseimbangan
ekosistem perairan dan hutan, serta mengurangi hama tanaman di area sekitar
manusia. Selain itu, burung ini juga menjadi indikator kesehatan lingkungan karena
membutuhkan habitat yang bersih dan stabil untuk berkembang biak. Hilangnya
burung hantu ikan dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan di
ekosistemnya..
ciri khas dari spesies tersebut
Ciri khas burung hantu ikan terletak pada mata besar berwarna kuning cerah, jambul
di bagian kepala, bulu bercorak tebal, serta kemampuan unik berburu mangsa air.
Tidak seperti burung hantu lain yang mengandalkan daratan, spesies ini berdiri di
tepi sungai sambil mengamati pergerakan ikan sebelum menangkapnya dengan
cakar kuat. Mereka juga memiliki suara panggilan yang berbeda, berupa pekikan
keras yang sering terdengar pada malam hari, menjadi penanda keberadaannya di
hutan.
jenis dan deskripsi umum
Burung Hantu Ikan adalah spesies burung hantu besar yang tersebar di Asia
Tenggara, terutama di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Mereka merupakan hewan
nokturnal yang sangat bergantung pada penglihatan tajam dan pendengaran sensitif
untuk berburu. Burung ini biasanya menghuni pepohonan tinggi di dekat perairan
dan membuat sarang di lubang pohon atau celah batu. Secara umum, burung ini
relatif pemalu dan jarang terlihat oleh manusia di siang hari karena menghindari
cahaya terang.
interaksi yang teramati
Bertengger berdekatan merupakan bentuk asosiasi sosial positif, yang menunjukkan
bahwa mereka merasa aman satu sama lain. Tidak terlihat perilaku kompetitif atau
dominansi. Interaksi ini dapat menunjukkan bonding pasangan (umum pada spesies
burung hantu yang monogami) atau keduanya adalah individu kolektif yang hidup
damai dalam satu area.
6. Sanca Kembang (Malayopython reticulatus)
(foto)
Nama Umum (Lokal): Sanca Kembang, Ular Sanca Batik
Nama Internasional:Reticulated Python
Nama Ilmiah:Malayopython reticulatus
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Famili: Pythonidae
Genus: Malayopython
Spesies: Malayopython reticulatus
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Sanca Kembang adalah ular terpanjang di dunia,dengan panjang rata-rata 4-6 meter
dan rekor lebih dari 8 meter. Tubuhnya ramping dan kuat untuk ukurannya. Pola
warnanya sangat khas dan kompleks, terdiri dari jaring-jaring geometris berwarna
coklat, kuning, hitam, dan krem yang membentuk "batik" yang indah. Kepalanya
memanjang dan jelas terpisah dari leher, dengan garis hitam mencolok yang
membentang dari mata ke belakang kepala. Matanya memiliki pupil vertikal, adaptasi
sebagai predator nokturnal.
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
Habitat Alami:Hutan hujan tropis, semak belukar, sungai, rawa-rawa, dan daerah
dekat perairan. Sangat adaptif dan dapat ditemukan di dekat pemukiman seperti
gorong-gorong, lumbung padi, dan area perkebunan.
Distribusi Geografis:Tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia (Sumatra,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku), Filipina, Malaysia, Thailand,
Vietnam, dan Bangladesh.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya:
Ular ini adalah perenang yang sangat handal dan sering terlihat melintasi
sungai.Aktif terutama pada malam hari (nokturnal). Berburu dengan cara
"menggentak" dan kemudian melilit mangsanya dengan kuat hingga mati lemas
sebelum ditelan bulat-bulat. Dapat ditemukan sedang beristirahat dengan melingkar
di dahan pohon yang rendah atau di semak belukar pada siang hari. Gerakannya
lambat dan tenang saat tidak terganggu.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
Ekologis: Sebagai predator puncak, Sanca Kembang berperan crucial dalam
mengendalikan populasi mamalia seperti tikus, babi hutan, monyet, rusa kecil, dan
mamalia lainnya. Hal ini menjaga keseimbangan rantai makanan.
Manusia: Kulitnya memiliki nilai ekonomi tinggi untuk industri mode (tas, sepatu).
Namun, perdagangannya kini diatur ketat. Juga menjadi daya tarik dalam ekowisata
dan pendidikan satwa liar.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas utama adalahpola "batik" atau jaring-jaring (reticulated) yang rumit dan
indah di sekujur tubuhnya. Ukuran panjangnya yang ekstrem menjadikannya ular
terpanjang di dunia. Ular ini juga dikenal sebagai perenang ulung yang dapat
menyeberangi lautan untuk menjangkau pulau-pulau baru. Rahangnya yang sangat
fleksibel memungkinkannya menelan mangsa yang berukuran jauh lebih besar dari
kepalanya.
Jenis dan Deskripsi Umum:
GenusMalayopython sebelumnya digabung dengan Python. Spesies ini adalah ular
pembelit (constrictor) non-berbisa terpanjang di dunia. Mereka adalah predator
penyergap yang mengandalkan kamuflase dan kekuatan. Meskipun berukuran
raksasa, serangan terhadap manusia sangat jarang terjadi.
Interaksi yang teramati
Terlihat 3 jenis ular lainnya dalam satu kandang yang sama, namun tidak terdapat
interaksi secara langsung. Terdapat beberapa ular yang saling bertumpuk, melilitkan
tubuh bersama tanpa ada tanda perkelahian.
7. burung kakatua raja (Probosciger aterrimus)
(foto)
Nama Umum (Lokal): Kakatua Raja, Kakatua Hitam
Nama Internasional:Palm Cockatoo
Nama Ilmiah:Probosciger aterrimus
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Psittaciformes
Famili: Cacatuidae
Genus: Probosciger
Spesies: Probosciger aterrimus
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Kakatua Raja adalah burung kakatua terbesar,dengan panjang tubuh sekitar 50-60
cm dan berat hingga 1 kg. Seluruh bulunya berwarna hitam keabu-abuan,
memberikan penampilan yang dramatis. Pipinya berwarna merah terang dan tidak
berbulu; warna ini dapat berubah menjadi lebih terang saat burung bersemangat
atau terangsang. Memiliki jambul yang besar dan mencolok yang dapat ditegakkan.
Paruhnya sangat besar, kuat, dan berwarna hitam, dengan ujung rahang atas yang
panjang dan runcing, merupakan salah satu paruh terkuat di antara burung paruh
bengkok.
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
Habitat Alami:Hutan hujan tropis dataran rendah, hutan savana beriklim tropis, dan
hutan riparian.
Distribusi Geografis:Endemik di Pulau Papua (baik Indonesia dan Papua Nugini)
serta Kepulauan Aru. Juga ditemukan di ujung utara Australia (Semenanjung Cape
York).
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya:
Biasanya terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil.Memiliki suara panggilan
yang keras, melengking, dan dapat terdengar dari jarak jauh. Perilaku yang paling
unik dan langka di dunia burung adalah kemampuannya menggunakan alat. Jantan
akan mematahkan ranting dan memegangnya dengan kaki, lalu mengetuknya secara
ritmis pada batang pohon berongga yang dijadikan sarang. Perilaku ini diduga
sebagai bentuk display untuk memikat betina atau menandai sarang.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
Ekologis: Sebagai penyebar biji yang penting, terutama untuk pohon-pohon keras
(seperti kenari) karena paruhnya yang sangat kuat mampu memecah biji-biji yang
tidak dapat diakses oleh burung lain.
Manusia: Merupakan spesies ikonik untuk ekowisata pengamatan burung
(birdwatching). Sayangnya, perdagangan liar dan hilangnya habitat menjadi
ancaman serius.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas yang tak terbantahkan adalahpenampilan seluruhnya hitam dengan pipi
merah dan paruh besar yang masif. Kemampuan menggunakan alat (ranting) untuk
mengetuk merupakan ciri kecerdasannya yang luar biasa dan membedakannya dari
hampir semua burung lainnya. Memiliki panggulan yang sangat khas, berupa siulan
panjang yang diakhiri dengan suara memelas.
Jenis dan Deskripsi Umum:
Kakatua Raja adalah satu-satunya anggota dari genusProbosciger. Mereka adalah
burung yang monogami dan berumur panjang (dapat hidup lebih dari 50 tahun).
Dibandingkan kakatua lain, mereka lebih pemalu dan sulit diamati. Makanan
utamanya adalah biji-bijian keras, kacang-kacangan, dan buah-buahan.
interaksi yang teramati
Posisi tubuh menghadap keluar seolah sedang mengamati lingkungan, ciri khas
burung yang waspada namun tidak tertekan.
8. burung kakatua jambul kuning(Cacatua galerita)
(foto)
Nama Umum (Lokal): Kakatua Jambul Kuning, Kakatua Besar
Nama Internasional:Sulphur-crested Cockatoo
Nama Ilmiah:Cacatua galerita
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Psittaciformes
Famili: Cacatuidae
Genus: Cacatua
Spesies: Cacatua galerita
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Burung berukuran besar(45-55 cm) dengan bulu seluruhnya putih bersih. Ciri paling
mencolok adalah jambulnya yang besar dan berwarna kuning sulphur (belerang)
cerah, yang dapat ditegakkan ketika burung sedang bersemangat, terkejut, atau
waspada. Paruhnya berwarna hitam, besar, dan melengkung kuat. Bulu di bawah
sayap dan ekornya berwarna kuning pucat, yang terlihat jelas saat burung terbang.
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
Habitat Alami:Hutan, savana, lahan berhutan, dan area sepanjang sungai. Sangat
adaptif terhadap lingkungan yang terganggu.
Distribusi Geografis:Asli dari Papua, Kepulauan Maluku, dan Australia. Telah
diintroduksi (sengaja atau tidak sengaja dilepaskan) ke beberapa daerah seperti Bali,
Hong Kong, Singapura, dan Selandia Baru, di mana mereka telah membentuk
populasi liar.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya:
Sangat berisik dan hidup dalam kelompok besar yang mencapai puluhan bahkan
ratusan individu.Aktif di siang hari (diurnal). Sangat cerdas, penasaran, dan
destruktif; sering terlihat menggigit dan merusak kayu dengan paruhnya yang kuat,
baik untuk mencari larva serangga maupun sekadar bermain. Saat terbang dalam
kelompok, suaranya sangat bising dan memekakkan telinga.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
Ekologis: Berperan sebagai penyebar biji berbagai jenis tumbuhan. Juga membantu
mengendalikan populasi serangga hama kayu dengan memakan larvanya.
Manusia: Populer sebagai hewan peliharaan karena kecerdasannya dan
kemampuan menirukan suara. Namun, kebutuhan sosial dan sifat destruktifnya
membuat perawatannya rumit. Juga dapat menjadi hama bagi tanaman pertanian.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas utama adalah jambul kuning cerah yang besar dan suara panggilannya
yang sangat keras dan melengking. Perilakunya yang sangat sosial dan hidup dalam
kelompok besar (flock) yang bising menjadikannya sangat mudah dikenali.
Kemampuan adaptasinya yang tinggi memungkinkannya hidup di berbagai habitat,
termasuk perkotaan.
Jenis dan Deskripsi Umum:
Kakatua Jambul Kuning adalah salah satu kakatua putih yang paling dikenal.Mereka
adalah burung yang sangat sosial dengan struktur kelompok yang kompleks.
Makanannya sangat bervariasi, termasuk biji, kacang, buah, akar, dan serangga. Di
alam liar, mereka memiliki peran penting dalam dinamika kelompok dan komunikasi
yang konstan.
interaksi yang teramati:
Kedua kakatua bertengger dalam jarak sangat dekat, menunjukkan adanya
hubungan sosial yang baik. Postur tubuh keduanya sejajar dan tenang,
mengindikasikan interaksi non-agresif dan kemungkinan saling nyaman satu sama
lain. Tidak tampak interaksi dengan hewan lain atau penjaga pada saat pengamatan.
9. babirusa(Babyrousa spp.)
(foto)
Nama Umum (Lokal): Babirusa
Nama Internasional:Babirusa, Deer-pig
Nama Ilmiah:Genus Babyrousa (terdapat beberapa spesies, misalnya B. babyrussa,
B. celebensis)
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Suidae
Genus: Babyrousa
Spesies: Babyrousa spp.
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Babirusa memiliki tubuh yang hampir tidak berbulu,dengan kulit berwarna abu-abu
hingga kecoklatan yang kasar dan berkerut. Ciri paling legendaris adalah gading
pada jantan. Berbeda dengan babi lain, gading babirusa adalah taring yang tumbuh
secara vertikal. Gading bawah tumbuh menembus moncong dan melengkung ke
depan. Yang lebih unik lagi, gading atas tumbuh menembus tulang hidung di
moncongnya dan melengkung ke belakang menuju dahi, menyerupai tanduk. Betina
tidak memiliki gading yang berkembang sepanjang itu. Babirusa juga memiliki dua
pasang tonjolan pada perut (preputial pada jantan dan umbilical pada betina).
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
Habitat Alami:Hutan hujan tropis yang lebat, hutan riparian (pinggir sungai), dan
rawa-rawa. Mereka bergantung pada sumber air untuk berkubang.
Distribusi Geografis:Endemik Indonesia, hanya ditemukan di Pulau Sulawesi dan
beberapa pulau satelitnya seperti Kepulauan Togian, Sula, dan Buru.
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya:
Hewan yang umumnya pemalu dan sulit ditemui,aktif di siang hari (diurnal). Sering
terlihat berkubang di lumpur untuk mendinginkan tubuh dan melindungi diri dari
serangga. Jantan menggunakan gadingnya terutama untuk ritual pertarungan dan
display memperebutkan betina, dimana mereka saling berdiri berhadapan dan
mendorong dengan kaki depan. Meskipun terlihat berbahaya, gading atasnya rapuh
dan jarang digunakan untuk menusuk secara fisik.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
Ekologis: Sebagai "insinyur ekosistem", aktivitas mengorek tanah dengan
moncongnya membantu aerasi tanah dan daur ulang nutrisi. Mereka juga berperan
sebagai penyebar biji dari buah-buahan hutan yang mereka makan.
Manusia: Merupakan spesies ikonik dan flagship untuk konservasi satwa endemik
Sulawesi, memiliki nilai ekowisata yang tinggi. Juga merupakan bagian penting dari
warisan budaya lokal.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas yang absolut adalahgading atas jantan yang tumbuh menembus moncong
dan melengkung ke arah dahi, sebuah adaptasi seksual yang unik dalam dunia
mamalia. Statusnya sebagai hewan endemik Sulawesi menjadikannya prioritas
konservasi. Tubuhnya yang relatif ramping dan kaki yang panjang dibandingkan babi
lain membuatnya lebih lincah.
Jenis dan Deskripsi Umum:
GenusBabyrousa merupakan kerabat liar babi, tetapi dengan karakteristik morfologi
dan ekologi yang sangat berbeda. Saat ini umumnya diakui terdapat beberapa
spesies, seperti Babirusa Sulawesi (B. celebensis) dan Babirusa Togian (B.
togeanensis). Mereka adalah hewan omnivora yang memakan buah, akar,
kacang-kacangan, dan hewan kecil. Hidup dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh
jantan dominan.
interaksi yang teramati
Tidak terlihat adanya interaksi sosial yang signifikan. Objek tampak melakukan
aktivitas mandiri, yaitu mencari atau memakan rumput/tanaman di area tanah
berumput.
10. siamang (Symphalangus syndactylus)
(foto)
Nama Umum (Lokal): Siamang
Nama Internasional:Siamang
Nama Ilmiah:Symphalangus syndactylus
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primates
Famili: Hylobatidae
Genus: Symphalangus
Spesies: Symphalangus syndactylus
Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
Siamang adalah owa(gibbon) terbesar, dengan tinggi sekitar 75-90 cm dan berat
10-14 kg. Seluruh tubuhnya ditutupi bulu lebat berwarna hitam. Ciri fisik yang paling
mencolok adalah kantung tenggorokan (gular sac) yang besar dan tidak berbulu.
Kantung ini dapat menggelembung hingga seukuran kepalanya, berfungsi sebagai
resonator untuk memperkeras suara panggilannya. Ciri khas lainnya adalah jari kaki
kedua dan ketiga pada setiap kakinya menyatu (sindaktili), yang merupakan asal
nama spesiesnya 'syndactylus'.
Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek:
Habitat Alami:Kanopi hutan hujan tropis dataran tinggi dan rendah. Mereka hampir
sepenuhnya arboreal (hidup di pohon).
Distribusi Geografis:Tersebar di Pulau Sumatra (Indonesia) dan Semenanjung
Malaya (Malaysia dan Thailand).
Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal
menarik lainnya:
Siamang adalah ahlibrachiation, yaitu berayun dengan lengan yang sangat panjang
dan kuat dari dahan ke dahan dengan kecepatan dan ketangkasan yang luar biasa.
Aktif di siang hari (diurnal). Setiap pagi, kelompok keluarga siamang akan melakukan
vokalisasi duet yang sangat keras dan kompleks. Duet ini, yang dipimpin oleh betina,
dapat terdengar hingga jarak 3 km dan berfungsi untuk memperkuat ikatan pasangan
serta mempertahankan teritorinya dari kelompok lain.
Manfaat dan Peranan Ekologis:
Ekologis: Sebagai pemakan buah (frugivor), Siamang adalah penyebar biji yang
sangat penting bagi banyak pohon hutan. Mereka menyebarkan biji dalam jarak jauh
melalui kotorannya, sehingga sangat vital untuk regenerasi dan kesehatan hutan.
Manusia: Merupakan spesies kunci untuk ekowisata pengamatan satwa dan
pendidikan konservasi primata.
Ciri Khas dari Spesies Tersebut:
Ciri khas utama adalah kantung tenggorokan yang menggelembung saat
menghasilkan suara panggulan yang nyaring, serta duet vokal yang spektakuler
antara jantan dan betina. Penyatuan (sindaktili) pada jari kaki kedua dan ketiga
adalah ciri morfologis yang unik di antara owa. Ukurannya yang besar dan warna
hitam legam membuatnya mudah dibedakan dari owa lain.
Jenis dan Deskripsi Umum:
Siamang adalah satu-satunya spesies dalam genus Symphalangus. Mereka hidup
dalam kelompok keluarga inti yang monogami, terdiri dari sepasang induk dan 1-2
anaknya. Seperti semua owa, mereka tidak memiliki ekor. Makanan utamanya
adalah buah, daun, bunga, dan sesekali serangga. Mereka adalah simbol hutan
Sumatra yang sehat dan utuh.
interaksi yang teramati
Tidak terdapat interaksi sosial yang terlihat. Siamang tampak duduk diam dan
beristirahat di atas batang kayu dalam kandangnya. Tidak ada aktivitas seperti
bermain, bersuara, atau berinteraksi dengan individu lain.
TUMBUHAN
1. Pohon Sirsak
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Sirsak
Nama Internasional: Soursop
Nama Ilmiah: Annona muricata L.
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Magnoliales
Famili: Annonaceae
Genus: Annona
Spesies: Annona muricata L.
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
-Batang: Berkayu, percabangan rendah, kulit kayu berwarna coklat tua.
-Daun: Tunggal, berbentuk bulat telur memanjang (elips), ujung dan pangkal
runcing, tepi rata, permukaan atas hijau tua dan mengilap, permukaan bawah
hijau muda.
-Bunga: Tunggal, muncul di batang atau cabang (kauliflori), memiliki tiga
kelopak berwarna hijau kekuningan dan tiga mahkota berwarna kuning tebal.
-Buah: Buah majemuk (aggregate fruit), berbentuk jantung atau oval, kulit
buah hijau dengan duri-duri lunak yang tidak tajam. Daging buah berwarna
putih, berserat, dan mengandung banyak biji hitam.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Berasal dari Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Sekarang banyak
dibudidayakan di daerah tropis di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tumbuh optimal di
dataran rendah hingga ketinggian 1000 mdpl.
Berdasarkan gambar, lokasi ditemukannya objek adalah lingkungan pedesaan/tropis
dengan vegetasi lebat. Lahan di sekitar basah dan subur, ditanam di kebun rumah.
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
Perilaku: Vegetasi sangat hijau, menandakan ketersediaan air yang melimpah,
posisi buah menggantung pada cabang yang relatif rendah.
Kondisi lingkungan:Tanaman ini sering ditanam di pekarangan rumah atau kebun,
biasanya kondisi lingkungan ideal dari tanaman adalah yang memiliki curah hujan cukup
tinggi dan yang disukai adalah tempat terbuka dengan sinar matahari penuh.
Hal menarik: adalah bunganya sering dikunjungi kumbang penyerbuk, dan buah
muda sering menjadi sasaran hama seperti kutu putih atau ulat.
7. manfaat dan peranan ekologis.
Manfaat: Buahnya dimakan segar atau diolah menjadi jus, dodol, dan selai. Daun, b
iji, dan akarnya digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit.
Peranan Ekologis: Menyediakan nektar dan pollen untuk serangga penyerbuk.
Dapat menjadi bagian dari sistem agroforestri sederhana.
8. ciri khas dari spesies tersebut.
Buahnya yang berduri lunak dan bentuknya yang seperti jantung adalah ciri yang
paling mencolok. Daunnya yang lebar dan mengilap juga mudah dikenali.
9. jenis dan deskripsi umum.
Sirsak adalah pohon buah-buahan perennial (tahunan) yang selalu hijau. Tingginya
dapat mencapai 8-10 meter. Tanaman ini dikenal karena buahnya yang memiliki rasa
manis-asam yang khas.
10. interaksi yang teramati.
Dengan Serangga: Kumbang dan lebah mengunjungi bunga untuk mengambil
nektar dan pollen, sekaligus membantu penyerbukan.
Dengan Manusia: Pemilik kebun memanen buah untuk konsumsi atau dijual.
Dengan lingkungan sekitarnya: Pohon mendapatkan air dari hujan dan sinar
matahari tersebar yang cocok untuk fotosintesis.
Dengan tanaman lainnya: Sirsak tumbuh berdampingan dengan pohon pisang dan
vegetasi lain. Tanaman-tanaman ini saling berbagi ruang dan mungkin bersaing dalam hal
cahaya.
2. Pohon Durian
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Durian
Nama Internasional: Durian
Nama Ilmiah: Durio zibethinus L.
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Durio
Spesies: Durio zibethinus L.
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
Batang: Berkayu, tinggi, dapat mencapai 25-50 meter. Kulit batang berwarna coklat
kemerahan dan mengelupas.
Daun: Tunggal, berbentuk jorong hingga lanset, ujung runcing, permukaan atas hijau
tua berkilap, permukaan bawah keperakan atau keemasan karena sisik-sisik halus.
Bunga: Tumbuh dalam karangan langsung dari batang atau cabang tua (cauliflori),
besar, berwarna putih atau kuning kecoklatan.
Buah: Bulat hingga lonjong, sangat berduri tajam dan keras. Kulit buah hijau
kekuningan saat matang. Memiliki ruang dalam yang berisi daging buah (aril)
berwarna krem hingga kuning emas, bertekstur lembut, dan aroma yang sangat kuat.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Berasal dari hutan hujan tropis Asia Tenggara. Tumbuh liar dan dibudidayakan
secara intensif di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Memerlukan iklim lembap dengan
curah hujan tinggi.
Berdasarkan gambar, nagka tumbuh di area pekarangan rumah, dengan lingkungan
tropis lembab.
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
Perilaku: Warna daun pada buah bervariasi, menunjukkan pertumbuhan aktif dan
adanya tunas baru.
Kondisi lingkungan: Pohon durian biasanya tumbuh di daerah dengan drainase
baik. Saat berbunga, aroma bunga yang harum (sering digambarkan seperti susu asam)
menarik kelelawar dan ngengat sebagai penyerbuk utama.
Hal menarik: Suara jatuhnya buah durian yang matang adalah hal yang khas di
kebun durian.
7. manfaat dan peranan ekologis
Manfaat: Buahnya adalah komoditas buah segar bernilai tinggi. Kayunya juga dapat
digunakan untuk bahan bangunan.
Peranan Ekologis: Bunganya menjadi sumber makanan penting bagi kelelawar
pemakan nektar (Eonycteris spelaea) yang berperan sebagai penyerbuk kunci. Pohonnya
yang besar menyediakan habitat bagi berbagai burung dan hewan arboreal.
8. ciri khas dari spesies tersebut
Aroma buahnya yang sangat kuat dan khas, serta kulit buah yang berduri tajam dan
keras. Ukuran pohonnya yang sangat tinggi juga menjadi pembeda.
9. jenis dan deskripsi umum
Durian adalah pohon hutan hujan tropis yang berbuah musiman. Dijuluki "King of
Fruits" (Raja Buah) karena ukuran, aroma, dan rasanya yang unik. Terdapat banyak varietas
kultivar unggul.
10. interaksi yang teramati
Dengan Kelelawar & Ngengat: Hewan-hewan ini adalah penyerbuk utama bunga
durian pada malam hari.
Dengan Hewan Liar: Monyet, babi hutan, gajah, dan orangutan memakan buah
durian yang jatuh, membantu menyebarkan bijinya.
Dengan Manusia: Interaksi intensif untuk budidaya, panen, dan perdagangan buah.
Dengan lingkungan: Tanaman tumbuh berdampingan dengan tumbuhan lain di
sekitar, terjadi kompetisi cahaya dan ruang tumbuh.
3. Pepaya
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Pepaya
Nama Internasional: Papaya
Nama Ilmiah: Carica papaya L.
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Violales
Famili: Caricaceae
Genus: Carica
Spesies: Carica papaya L.
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
Batang: Berbatang tunggal, tidak berkayu (herbaceous), berongga, dengan bekas
tangkai daun yang menonjol. Getah berwarna putih.
Daun: Tumbuh berkumpul di ujung batang, berbentuk menjari (palmatifid) dengan
cuping yang dalam, tangkai daun panjang dan berlubang di tengah.
Bunga: Berumah satu atau dua. Bunga jantan dalam malai panjang, bunga betina
tunggal atau dalam kelompok kecil di ketiak daun.
Buah: Buah buni, bentuknya bervariasi (bulat, lonjong). Kulit buah hijau saat muda
dan kuning atau jingga saat matang. Daging buah oranye, dengan rongga berisi banyak biji
hitam kecil diselaputi lendir.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Berasal dari Amerika Tropis, kini tersebar dan dibudidayakan di semua daerah tropis
dan subtropis. Sangat mudah tumbuh di pekarangan, ladang, dan bahkan tumbuh liar.
Berdasarkan gambar, tanaman ditemukan di pedesaan dengan lingkungan tropis dan
area terbuka,di tanam dan dikelola di kebun rumah.
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
Perilaku: Tumbuh sangat cepat dan mudah berbuah, namun pada gambar buah
masih dalam fase pertumbuhan. Tandan buah tersusun rapi di batang bagian tengah, ciri
khas pepaya sehat. Getahnya yang putih dapat menyebabkan iritasi kulit pada sebagian
orang. Bunganya diserbuki oleh ngengat dan serangga kecil.
Kondisi lingkungan: Sering ditemukan di tanah-tanah kosong yang terbengkalai.
Tumbuh di ekosistem vegetasi campuran kaya.
Hal menarik: Setiap pohon pepaya diberi lingkaran pelindung, tampak berupa plastik
UV atau terpal diikat pada tiang kayu 7untuk melindungi tanaman dari hewan. Pepaya
terlihat sangat produktif meski berukuran relatif kecil. Ini menarik karena produktivitas tinggi
bisa menunjukkan pemupukan yang baik.
7. manfaat dan peranan ekologis
Manfaat: Buah matang dimakan segar, buah muda dijadikan sayur (lodeh, oseng).
Getahnya mengandung enzim papain untuk melunakkan daging. Daunnya juga digunakan
sebagai sayuran dan obat tradisional.
Peranan Ekologis: Sebagai tanaman pionir, buahnya menjadi sumber makanan
bagi burung dan kelelawar.
8. ciri khas dari spesies tersebut
Batangnya yang lunak seperti herba raksasa dan daunnya yang sangat besar
berbentuk menjari. Getah putih yang melimpah juga menjadi ciri khas.
9. jenis dan deskripsi umum
Pepaya adalah tanaman herba perennial (tahunan) yang besar dan cepat tumbuh.
Tanaman ini berumah dua (dioecious) atau berumah satu (monoecious), sehingga ada
pohon jantan, betina, dan sempurna.
10. interaksi yang teramati
Dengan Serangga: Ngengat dan kupu-kupu menghisap nektar bunga. Kutu putih
dan tungau sering menjadi hama.
Dengan Burung & Kelelawar: Memakan buah matang dan menyebarkan bijinya.
Dengan Manusia: Dipanen hampir setiap hari untuk konsumsi sehari-hari.
Dengan lingkungan: Tumbuhan lain di sekitar tidak terlalu rapat sehingga pepaya
tidak berebut cahaya.
4. Kelapa
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Kelapa
Nama Internasional: Coconut
Nama Ilmiah: Cocos nucifera L.
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Genus: Cocos
Spesies: Cocos nucifera L.
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
Batang: Berbatang tunggal (monopodial), berkayu, sering melengkung, dengan
bekas pelepah daun yang membentuk pola seperti sisik.
Daun: Daun majemuk menyirip, sangat panjang (4-6 meter), tersusun dalam
mahkota di puncak batang. Anak daun (pinnae) berbentuk pita.
Bunga: Terdapat dalam rangkaian (tandan) yang muncul di ketiak daun. Bunga
berumah satu, bunga jantan dan betina berada dalam satu tandan.
Buah: Buah berbentuk bulat hingga segitiga, buah batu (drupa). Serabut (mesokarp)
tebal, tempurung (endokarp) keras, dan di dalamnya terdapat daging buah (endosperm) dan
air kelapa.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Tumbuhan pantai tropis yang sangat khas. Tumbuh di sepanjang pesisir pantai
berpasir dan kini banyak dibudidayakan di berbagai dataran rendah hingga menengah.
Pada gambar, lokasi tanaman berada di pedesaan, area pertanian. Pohon tumbuh di
tanah yang miring dan terdapat vegetasi lebat.
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
Perilaku: Sangat tahan terhadap angin kencang dan semprotan air asin. Akar
serabutnya yang banyak dan kuat membantu menahan erosi di pantai. Bunganya diserbuki
oleh serangga. Kelapa pada gambar relatif muda, dengan daun kelapa berwarna hijau
segar.
Kondisi lingkungan: Curah hujan tinggi, berada di area pertanian dan tumbuh di
tanah yang miring dengan vegetasi lebat. Tanah subur dan sering mendapat air.
Hal menarik: Pohon tumbuh di tepi lahan curam, menunjukkan akar kelapa yang
kuat menghadapi kemiringan tanah dan memiliki kemungkinan berguna dalam menahan
erosi di sekitarnya.
7. manfaat dan peranan ekologis
Manfaat: Hampir semua bagian berguna: buah untuk makanan dan minuman, kayu
untuk bahan bangunan, daun untuk atap dan anyaman, sabut untuk keset, dll. Dijuluki "Tree
of Life".
Peranan Ekologis: Sangat penting untuk menstabilkan garis pantai dari abrasi.
Menyediakan habitat dan makanan bagi berbagai fauna pesisir.
8. ciri khas dari spesies tersebut
Bentuknya yang khas sebagai pohon palem tinggi dengan buah bulat berserabut.
Kemampuannya tumbuh di lingkungan pantai yang ekstrem.
9. jenis dan deskripsi umum
Kelapa adalah anggota keluarga palma (Arecaceae) yang merupakan tanaman
serba guna. Merupakan simbol dari daerah tropis.
10. interaksi yang teramati
Dengan Lingkungan: Adanya kompetisi cahaya dengan pohon-pohon lain di sekitar.
Dengan hewan kecil: Terjadi interaksi yang umum dengan burung, serangga, dan
tupai.
Dengan Manusia: Interaksi yang sangat erat dan multiguna untuk memenuhi
berbagai kebutuhan hidup.
5. Kacang panjang
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Kacang panjang
Nama Internasional: Yard-long bean, black-eye bean
Nama Ilmiah: Vigna unguiculata ssp. Sesquipedalis
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnolipsida
Ordo: Fabales
Famili: Fabacaeae
Genus: Vigna
Spesies: Vigna unguiculata ssp. Sesquipedalis
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
Batang: Berbatang lunak (herba), merambat atau memanjat dengan cara membelit,
tidak berkayu.
Daun: Daun majemuk berseling, terdiri dari tiga anak daun (trifoliate). Anak daun
berbentuk oval atau segitiga.
Bunga: Berupa tandan, keluar dari ketiak daun, berbentuk seperti kupu-kupu (khas
polong-polongan), berwarna ungu, putih, atau kuning pucat.
Buah: Berupa polong (legume) yang panjang dan ramping, dapat mencapai 30-90
cm. Berwarna hijau saat muda dan kecoklatan saat tua. Berisi banyak biji.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Dibudidayakan secara luas di ladang dan kebun sebagai tanaman sayuran semusim.
Memerlukan tiang atau lanjaran untuk merambat.
Pada gambar, tanaman tumbuh di lahan pertanian dataran tinggi.
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
Perilaku: Pertumbuhannya sangat cepat. Bunganya menarik bagi lebah dan
kupu-kupu, pada gambar terdapat bunga yang tampak mekar dan menunjukkan bahwa
tanaman dalam fase generatif. Tanaman tumbuh memanjang pada lanjaran bambu atau
kayu. Daun sebagian ada yang menguning atau terdapat bercak coklat akibat penuaan
Kondisi lingkungan: Lingkungan sedikit berkabut dan lembab, lahan diatur dengan
mulsa plastik untuk mencegah gulma dan mempertahankan kelembapan. Gulma tetap
tumbuh di beberapa area, terutama di luar jalur tanaman, menandakan kondisi lingkungan
yang cukup lembab.
Hal menarik: Tiang kayu tegak dan horizontal membentuk rangka rambatan.
Beberapa batang kayu terlihat kurang stabil atau miring akibat beban tanaman atau kondisi
tanah yang basah.
7. manfaat dan peranan ekologis
Manfaat: Polong muda dan daunnya merupakan sayuran yang populer. Biji tuanya
juga dapat dimakan.
Peranan Ekologis: Sebagai tanaman penutup tanah yang cepat tumbuh dan
mampu memfiksasi nitrogen dari udara, sehingga meningkatkan kesuburan tanah.
8. ciri khas dari spesies tersebut
Polongnya yang sangat panjang dan ramping, serta kebiasaannya yang merambat
dengan membelit lanjaran.
9. jenis dan deskripsi umum
Kacang panjang adalah tanaman sayuran semusim dari keluarga kacang-kacangan
(legume). Siklus hidupnya pendek dan sangat produktif.
10. interaksi yang teramati
Dengan lingkungan: Tanaman merambat memanfaatkan penopang kayu untuk
tumbuh ke atas. Hujan dan suhu yang lembab terlihat mendukung pertumbuhan daun meski
memiliki potensi meningkatkan risiko penyakit.
Dengan tanaman lain: Gulma bersaing dalam hal nutrisi dan ruang.Tanaman saling
berinteraksi dengan sesama denga rangka rambatan, membentuk struktur yang cukup
rapat.
Dengan Serangga Penyerbuk: Lebah membantu penyerbukan bunga. Kutu daun
dan ulat grayak adalah hama umum.
Dengan Manusia: Dipanen secara rutin untuk dijadikan sayuran.
6. Buncis
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Buncis
Nama Internasional: Common bean, Green bean, French bean
Nama Ilmiah: Phaseolus vulgaris
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Phaseolus
Spesies : Vigna unguiculata ssp. Sesquipedalis
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
- Akar: Memiliki sistem perakaran tunggang dan terdapat bintil-bintil akar (nodul) tempat
bakteri pengikat nitrogen.
- Batang: Berwarna hijau, berbuku-buku, lunak (herbaceous), dan tumbuh membelit (tipe
merambat) atau tegak (tipe perdu/tegak).
- Daun: Daun majemuk beranak tiga (trifoliate), berbentuk bulat telur hingga segitiga dengan
ujung runcing, tepi rata, dan pertulangan menyirip.
- Bunga: Berbentuk seperti kupu-kupu (papilionaceous), berwarna putih, ungu, atau merah
muda. Termasuk bunga sempurna (hermafrodit).
- Buah: Berbentuk polong panjang, berwarna hijau muda hingga tua, lurus atau sedikit
melengkung, berisi biji di dalamnya.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Buncis dapat tumbuh optimal di daerah beriklim sedang hingga tropis dengan curah hujan
cukup. Menyukai tanah yang gembur, kaya humus, dan drainase baik.
5. Dokumentasi foto dari masing-masing objek
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
- Perilaku Tumbuhan: Batang terlihat aktif membelit pada ajir (tiang penyangga) sebagai
respon tigmotropisme (gerak membelit karena sentuhan).
- Kondisi Lingkungan: Tanaman tumbuh di area yang terkena sinar matahari langsung
dengan kondisi tanah yang lembap.
- Hal Menarik: Daun tanaman buncis kadang terlihat agak menutup atau layu pada
sore/malam hari (gerak niktinasti) dan membuka kembali saat terkena cahaya matahari.
7. manfaat dan peranan ekologis
Sebagai sumber bahan pangan manusia yang kaya akan protein nabati, serat, vitamin A, C,
dan K. Dapat menyuburkan tanah, akar buncis akan bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium
untuk mengikat nitrogen bebas dari udara menjadi nitrat yang dapat digunakan oleh
tumbuhan lain, sehingga meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
8. ciri khas dari spesies tersebut
Memiliki daun majemuk beranak tiga (trifoliate), bunganya memiliki struktur khas kupu-kupu
dengan satu kelopak bendera yang besar dan adanya bintil-bintil pada akar (nodul) yang
merupakan ciri khas famili Fabaceae.
9. jenis dan deskripsi umum
Buncis adalah tanaman sayuran buah semusim (annual), buncis termasuk tanaman semak
atau merambat yang siklus hidupnya pendek (panen dalam 45-60 hari). Tanaman ini tidak
memiliki kayu keras dan seluruh bagian buah mudanya (polong) dapat dikonsumsi.
10. interaksi yang teramati
- Simbiosis Mutualisme: Interaksi antara akar tanaman dengan bakteri Rhizobium (bintil
akar).
- Herbivori: Terlihat adanya lubang pada daun (jika ada) yang menandakan interaksi
dengan hama ulat atau belalang.
- Kompetisi: Tanaman buncis terlihat berkompetisi memperebutkan cahaya matahari
dengan gulma di sekitarnya (jika ada rumput liar).
7. Timun
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Timun / Mentimun
Nama Internasional: Cucumber
Nama Ilmiah: Cucumis sativus
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativus L.
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
- Akar: Memiliki sistem perakaran tunggang dengan banyak akar serabut di permukaan
tanah.
-Batang: Batang lunak, berair, berwarna hijau, beralur, dan memiliki rambut-rambut halus
yang agak kasar/tajam. Tumbuh merambat atau menjalar.
- Daun: Daun tunggal, lebar, berbentuk bulat atau jantung dengan tepian berlekuk (menjari)
dan bersudut runcing. Permukaan daun terasa kasar jika diraba.
- Bunga: Berwarna kuning cerah, berbentuk seperti lonceng. Biasanya terdapat bunga
jantan dan bunga betina pada satu tanaman (monoecious).
- Buah: Buah sejati tunggal (tipe pepo), berbentuk lonjong memanjang, kulit buah berwarna
hijau (kadang ada bintil-bintil kecil atau garis putih), daging buah berair.
- Sulur: Terdapat sulur berbentuk spiral yang keluar dari ketiak daun, berfungsi untuk melilit
ajir/penyangga.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Timun tumbuh subur di iklim tropis dan subtropis, membutuhkan paparan sinar matahari
penuh dan tanah yang gembur serta kaya air.
5. Dokumentasi foto dari masing-masing objek
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
- Perilaku Tumbuhan: Sulur tanaman aktif mencari pegangan dan melilit kuat pada tiang
penyangga (tigmotropisme) untuk menopang batang yang lemah agar bisa tumbuh ke atas.
- Kondisi Lingkungan: Tanaman terlihat segar pada pagi hari, namun daun yang lebar
cenderung agak layu saat siang hari yang terik untuk mengurangi penguapan.
- Hal Menarik: Permukaan batang dan daun terasa "gatal" atau kasar saat disentuh karena
adanya trikoma (rambut halus).
7. manfaat dan peranan ekologis
Buahnya dikonsumsi sebagai lalapan, acar, atau jus karena kandungan air yang tinggi,
vitamin K, dan mineral. Digunakan juga dalam kosmetik untuk masker wajah. Bunganya
merupakan sumber serbuk sari dan nektar bagi serangga penyerbuk (polinator) seperti
lebah dan semut.
8. ciri khas dari spesies tersebut
- Adanya sulur dahan (tendril) berbentuk spiral yang keluar dari sisi tangkai daun.
- Bunga berwarna kuning cerah berbentuk terompet/lonceng.
- Tekstur batang dan daun yang kasar/berbulu (hispid).
9. jenis dan deskripsi umum
Timun adalah tanaman herba semusim merambat dari keluarga labu-labuan yang
menghasilkan buah yang dapat dimakan. Tanaman ini tidak dapat berdiri tegak sendiri tanpa
bantuan penyangga atau akan menjalar di tanah (creeping).
10. interaksi yang teramati
- Polinasi: Terlihat lebah atau semut mengerubungi bunga kuning untuk membantu
penyerbukan (bunga jantan ke bunga betina).
- Herbivori: Terdapat bekas gigitan pada daun (biasanya kumbang daun atau ulat) yang
memakan bagian tepi daun.
- Kompetisi: Sulur timun kadang melilit tanaman lain di sekitarnya dalam upaya mencari
sinar matahari.
8. Daun bawang
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Daun Bawang / Bawang Daun
Nama Internasional: Onion/ Welsh onion
Nama Ilmiah: Allium fistulosum L.
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom :
Filum : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Asparagales
Famili : Amaryllidaceae
Genus : Allium
Spesies : Allium fistulosum L.
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
- Akar: Sistem perakaran serabut (fibrous root), dangkal, dan tumbuh dari bagian cakram
(batang sejati) di pangkal.
- Batang: Memiliki dua jenis batang. Batang sejati berupa cakram tipis di bagian dasar.
Bagian putih panjang yang terlihat di atas tanah adalah batang semu (pseudostem) yang
terbentuk dari pelepah daun yang saling membungkus.
- Daun: Berbentuk bulat panjang silindris seperti pipa (fistula), berongga di bagian tengah,
berwarna hijau muda hingga hijau tua dengan lapisan lilin tipis. Ujung daun meruncing.
- Bunga: (Jika ada) Berbentuk payung majemuk (umbel) berwarna putih yang tumbuh di
ujung tangkai bunga yang panjang.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Tumbuh optimal di dataran rendah maupun tinggi (pegunungan), menyukai tanah yang
gembur, drainase baik, dan cukup air namun tidak menggenang. Dalam hal ini area lahan
pertanian/kebun sayur, ditanam pada bedengan tanah yang dilapisi plastik mulsa
perak-hitam.
5. Dokumentasi foto dari masing-masing objek
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
- Perilaku: Tanaman terlihat tumbuh secara berumpun (tunas anak tumbuh rapat di samping
tanaman induk) dan daunnya tumbuh tegak lurus ke atas untuk memaksimalkan penerimaan
cahaya matahari.
- Kondisi Lingkungan: Lingkungan tumbuh menggunakan mulsa plastik perak-hitam di
bagian akar untuk menahan kelembapan. Namun, di area luar plastik (sela-sela bedengan)
terlihat banyak gulma atau tanaman liar yang tumbuh subur dan cukup tinggi, menandakan
persaingan ruang tumbuh yang ketat di sekitar lahan.
- Hal Menarik: Meskipun bagian pangkal hingga tengah daun berwarna hijau segar dan
kokoh, terlihat beberapa ujung daun bagian atas sudah mulai menguning dan kering
(nekrosis).
7. manfaat dan peranan ekologis
Sebagai bumbu dapur utama (penyedap rasa), bahan pelengkap masakan (martabak, sop),
dan sumber vitamin A, C, serta antioksidan. Aroma menyengat dari tanaman ini dapat
berfungsi sebagai repellent (penolak) hama alami bagi tanaman lain di sekitarnya, sehingga
sering dijadikan tanaman tumpangsari.
8. ciri khas dari spesies tersebut
- Daun berbentuk silinder dan berongga (seperti pipa).
- Batang bagian bawah berwarna putih bersih hingga hijau pucat (batang semu).
- Tidak membentuk umbi lapis yang besar seperti bawang merah, melainkan tumbuh
memanjang.
9. jenis dan deskripsi umum
Tanaman herba monokotil semusim atau dua musim. Daun bawang adalah jenis sayuran
dari kelompok bawang-bawangan yang diambil bagian daun dan batang putihnya. Tanaman
ini tumbuh tegak dengan akar serabut yang tidak masuk terlalu dalam ke tanah.
10. interaksi yang teramati
- Kompetisi: Terlihat adanya gulma (rumput liar dan tanaman liar berbunga putih/ungu,
kemungkinan Ageratum) yang tumbuh di sela-sela bedengan, berkompetisi mencari nutrisi
dengan tanaman utama.
- Campur Tangan Manusia: Penggunaan mulsa plastik menunjukkan adanya rekayasa
lingkungan untuk mengurangi penguapan air dan menghambat pertumbuhan gulma di dekat
akar tanaman.
9. Oyong/Gambas
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Oyong, Gambas, Ceme
Nama Internasional: Angled Luffa, Chinese Okra, Ridge Gourd
Nama Ilmiah: Luffa acutangula
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Luffa
Spesies : Luffa acutangula (L.) Roxb.
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
- Batang: Batang merambat, berwarna hijau, berusuk lima (persegi lima), dan memiliki sulur
(alat pembelit) yang keluar dari ketiak daun.
- Daun: Daun tunggal, lebar menjari (biasanya 5-7 lekukan), berwarna hijau gelap,
permukaannya kasar.
- Bunga: Berwarna kuning cerah, berukuran cukup besar, tumbuh di ketiak daun. (Terlihat
satu bunga mekar di sisi kanan foto).
- Buah: Berbentuk lonjong memanjang seperti gada, berwarna hijau tua, dan memiliki ciri
khas rusuk-rusuk tajam yang menonjol memanjang dari pangkal ke ujung.
- Akar: Sistem perakaran tunggang.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Tumbuh di daerah tropis yang hangat, membutuhkan penyinaran matahari penuh. Biasanya
ditanam di ladang atau pekarangan dengan bantuan tiang rambat. Lahan pertanian terbuka
(sawah/ladang), tanaman dirambatkan pada tiang-tiang bambu (lanjaran).
5. Dokumentasi foto dari masing-masing objek
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
- Perilaku: Tanaman menggunakan sulur (tendril) untuk melilit kuat pada tiang bambu agar
batang bisa tumbuh vertikal menopang buah yang menggantung.
- Kondisi Lingkungan: Lingkungan terlihat basah/lembap (daun terlihat basah terkena air
hujan atau embun). Tanah di bawahnya tampak berupa tanah lempung yang agak becek.
- Hal Menarik: Banyak daun yang mengalami kerusakan fisik berupa bercak-bercak cokelat
dan lubang-lubang, yang kemungkinan besar disebabkan oleh serangan hama kumbang
daun atau penyakit jamur karena kelembapan tinggi. Buah oyong menggantung ke bawah
mengikuti gaya gravitasi.
7. manfaat dan peranan ekologis
Sebagai sumber bahan pangan manusia yang buah mudanya dimasak sebagai sayur (sayur
bening, tumis) karena teksturnya yang lembut dan manis. Memiliki kandungan serat dan
vitamin C. Bunganya yang kuning dan mencolok berfungsi menarik serangga penyerbuk
(polinator) seperti lebah dan semut hitam.
8. ciri khas dari spesies tersebut
Buahnya memiliki rusuk/siku yang tajam dan keras sepanjang kulit buah (ini yang
membedakan dengan jenis luffa lain/blustru yang kulitnya halus) dan batangnya berbentuk
segi lima.
9. jenis dan deskripsi umum
Tanaman sayuran buah merambat semusim. Oyong adalah tanaman dari keluarga
labu-labuan yang dikenal luas di Asia. Tanaman ini tumbuh cepat dan membutuhkan
penopang (para-para atau lanjaran) agar buahnya tumbuh lurus dan tidak busuk menyentuh
tanah.
10. interaksi yang teramati
- Interaksi Fisik: Sulur tanaman melilit tiang bambu buatan manusia sebagai penopang
hidup.
- Herbivori/Penyakit: Teramati adanya interaksi negatif dengan organisme lain, dibuktikan
dengan daun-daun yang bolong dan bergerigi (dimakan ulat atau kumbang) serta bercak
nekrosis (kematian jaringan daun) berwarna kecokelatan.
- Kompetisi: Di bagian bawah (lantai tanah), terlihat adanya rumput liar yang tumbuh
bersaing memperebutkan nutrisi tanah.
10. Raspberry gunung
1. Nama umum (lokal )dan nama ilmiah setiap hewan dan tumbuhan.
Nama Umum (Lokal): Raspberry Gunung, Arben Hutan, Arbei, Gusberi, Beri Hutan
Nama Internasional: West Indian Raspberry, Rose-leaf Bramble
Nama Ilmiah: Rubus rosifolius
2. Klasifikasi taksonomi lengkap (kingdom sampai spesies).
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Rubus
Spesies : Rubus rosifolius Sm..
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati.
- Batang: Berkayu lunak, tumbuh semak atau merambat (scrambling), berwarna hijau
kecokelatan, dan memiliki duri-duri kecil yang tajam bengkok ke bawah pada batangnya.
- Daun: Daun majemuk menyirip ganjil (pinnate), anak daun berbentuk bulat telur
memanjang (lanset) dengan tepian bergerigi (serrated). Permukaan daun terlihat berkerut
mengikuti tulang daun.
- Bunga: (Umumnya) Berwarna putih, memiliki 5 kelopak, tumbuh tunggal atau dalam
kelompok kecil.
- Buah: Buah buni majemuk (aggregate fruit), berbentuk bulat agak lonjong. Berwarna hijau
saat muda dan merah terang saat matang. Berongga di bagian tengah jika dipetik.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya objek.
Tumbuh liar di daerah pegunungan yang sejuk, pinggiran hutan (forest margin), dan semak
belukar terbuka atau area semak belukar liar yang rimbun. Menyukai tanah yang lembap
dan sedikit ternaungi.
5. Dokumentasi foto dari masing-masing objek
6. Catatan hasil pengamatan, seperti perilaku, kondisi lingkungan, atau hal menarik
lainnya.
- Perilaku: Tanaman tumbuh menyemak dan menyebar (invasif lokal), cabang-cabangnya
cenderung menjulur ke segala arah menutupi tanah atau menopang pada tanaman lain.
- Kondisi Lingkungan: Lingkungan sangat lembap dan basah (daun terlihat basah),
vegetasi sangat padat dan rapat (heterogen).
- Hal Menarik: Tanaman ini tumbuh bercampur baur dengan tanaman liar lain sehingga
agak sulit membedakan pangkal batangnya, menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi
di lingkungan liar.
7. manfaat dan peranan ekologis
Buahnya yang matang (merah) dapat dimakan langsung, rasanya manis agak asam dan
segar. Kaya antioksidan. Daunnya kadang digunakan sebagai obat herbal tradisional
(rebusan). Buahnya menjadi sumber pakan penting bagi burung-burung liar dan mamalia
kecil di ekosistem hutan. Semaknya menjadi tempat perlindungan hewan kecil.
8. ciri khas dari spesies tersebut
Batang dan tangkai daun yang berduri tempel (seperti mawar), buah berwarna merah
menyala dengan tekstur berbintil-bintil (seperti stroberi tapi berongga), dan daun majemuk
dengan tepi bergerigi tajam.
9. jenis dan deskripsi umum
Tanaman perdu/semak tahunan. Raspberry gunung adalah kerabat mawar yang tumbuh liar
di dataran tinggi Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai tumbuhan pionir yang cepat
menutupi lahan terbuka.
10. interaksi yang teramati
- Kompetisi Tingkat Tinggi: Tanaman Raspberry Gunung ini tumbuh bersaing ketat
(kompetisi) memperebutkan ruang dan cahaya dengan rumput gajah/ilalang tinggi yang
mencuat di tengah-tengahnya dan tanaman paku (ferns) di bagian bawah.
- Naungan: Semak raspberry ini memberikan naungan bagi tanaman paku-pakuan kecil di
bawahnya agar tetap lembap.